Materi PKn kelas 7 smp
A.
Latar Sejarah Kelahiran
Pancasila
Sebelum
mempelajari sejarah kelahiran Pancasila, sebaiknya memahami lebih dahulu kehidupan bangsa Indonesia di
masa lampau. Yakni kehidupan di masa sejarah awal, zaman kerajaan Nusantara,
zaman penjajahan, hingga zaman kebangkitan nasional sebelum merdeka Sejak zaman
dahulu itu, nilai-nilai Pancasila sudah menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari negara Indonesia ini.
Maka para ahli pun menyebut bahwa Pancasila memang “digali dari bumi Indonesia
sendiri.”
1. Masa
Sejarah Awal
Beberapa peninggalan purba menunjuk kan bahwa nilai-nilai Panca-sila sudah ada sejak dahulu. Dimasa pra aksara sebelum abad ke-3 Masehi, nilai ketuhanan saat itu antara lain terlihat pada sarana upacara keagamaan, seperti nekara atau gong perunggu yang ditemukan di banyak tempat, mulai dari Sumatra hingga Alor, Nusa Tenggara Timur.
Gambar 1.1 Nekara,
sarana upacara keagamaan zaman dahulu
Sumber:
www.berbagaireviews.com/berbagaireviews (2017)
Nilai kemanusiaan dan per satuan
juga berkembang yang terlihat pada jejak-jejak peradaban lama. Jejak peradaban
di zaman pra aksara itu, antara lain adalah lukisan di dinding gua. Banyak
tempat di Indonesia terdapat lukisan gua, seperti di Wamena Papua, di
Leang-leang Sulawesi Selatan, hingga di pedalaman Kalimantan. Jejak peradaban
lama yang mencerminkan nilai kemanusiaan juga terwujud dengan adanya patung-patung purba
seperti di Lembah Bada, Sulawesi Tengah maupun di Gunung Dempo Sumatra Selatan.
Nilai kemanusiaan berupa kreativitas dan kesadaran berpikir makin berkembang setelah
ada prasasti batu bertulis. Di sekitar abad ke-5, berdiri kerajaan Tarumanegara
di Jawa Barat, kerajaan Kutai di
Kalimantan Timur disusul kerajaan Kalinga di Jawa Tengah. Prasasti batu
bertulis dari zaman itu menunjukkan ketenteraman yang menjadi penanda nilai
persatuan, hingga kerakyatan dan keadilan sosial. Masyarakat dalam keadaan
damai dan makmur.
2. Masa
Kerajaan Nusantara
Kemakmuran
bangsa Indonesia makin meningkat di akhir abad ke-7. Di Sumatra muncul kerajaan
besar Sriwijaya, disusul oleh Wangsa Sanjaya dan Syailendra di Jawa. Kerajaan
kembar itu membangun Candi Borobudur sebagai candi umat Buddha terbesar di
dunia, serta Candi Prambanan sebagai candi umat Hindu. Candi-candi itu
menunjukkan adanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, hingga keadilan sosial
yang kuat. Kemakmuran bangsa dilanjutkan oleh Majapahit yang berdiri setelah
mengalahkan pasukan Tiongkok. Wilayah Majapahit sampai meliputi Singapura,
Malaysia, Brunei, Filipina, Kamboja, dan selatan Vietnam.
Setelah itu
hadir kerajaan Islam seperti Samudera Pasai, Demak, hingga Ternate. Agama Islam
dan Bahasa Melayu berkembang ke seluruh Nusantara. Budayawan WS Rendra
(1935-2009) menyebut zaman Demak sebagai “zaman renaisans” atau kebangkitan
Nusantara. Perdagangan dan kesenian berkembang pesat, termasuk wayang. Di masa
kerajaan-kerajaan Nusantara yang makmur tersebut, nilai ketuhanan dan keadilan sosial sangat menonjol.
Tiga nilai lain Pancasila yakni kemanusiaan, persatuan, dan kerakyatan juga
berkembang baik.
Gambar
1.2 Borobudur dan nilai-nilai Pancasila
Sumber: Dreamcreation/www.shutterstock.com/shutterstock
(2019)
3. Masa Penjajahan
Makmurnya negeri ini mengundang orang asing datang dari Tiongkok,
India, Arab, lalu Eropa. Mula-mula mereka semua berdagang. Namun bangsa-bangsa Eropa
kemudian mulai menjajah Nusantara. Hal itu dilakukan oleh bangsa Portugis,
Spanyol, Inggris, dan akhirnya Belanda yang menjajah selama sekitar 350 tahun. Di Sumatra terjadi perlawanan oleh Sultan
Iskandar Muda, Sultan Badaruddin, Si Singamaraja,
Imam Bonjol dalam Perang Paderi (1803-1837) dan Cut Nya’ Dhien dalam Perang
Aceh (1873-1904). Di Jawa terjadi Perang Diponegoro (1825-1830). Pattimura di
Maluku, Jelantik di Bali, juga Pangeran Antasari di Kalimantan juga mengangkat
senjata.
Sedangkan perang laut besar-besaran dilakukan Sultan
Babullah di perairan Maluku dan Papua, Hang Tuah di Selat Malaka, juga Sultan Hasanuddin
di Laut Sulawesi dan Laut Jawa. Dengan nilai ketuhanan yang kuat, para pahlawan
pun berjuang untuk menegakkan nilai kemanusiaan dan nilai persatuan.
Gambar
1.3 Diponegoro, Cut Nyak Dhien dan Pattimura: Para pembela nilai Pancasila
Sumber:
www.taldebrooklyn.com/taldebrooklyn (2019)
4. Masa Kebangkitan Nasional
Memasuki abad ke-20, upaya melawan penjajah tidak
lagi dengan perang melainkan lewat gerakan politik. Budi Utomo yang diprakarsai
Wahidin Sudirohusodo berdiri pada tanggal 20 Mei 1908. Disusul oleh Sarekat
Islam pimpinan Cokroaminoto, lalu Muhammadiyah pimpinan K.H. Ahmad Dahlan
dan Nahdlatul Ulama pimpinan K.H. Hasyim Asy’ari. Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar
Dewantara muda yang mendirikan Indische Partij diasingkan ke Belanda. Pulang ke
Tanah Air, Dewantara mendirikan Taman Siswa. Abdul Muis, Marah Rusli dan para penulis
Balai Pustaka berjuang melalui karya sastra, menyadarkan masyarakat agar terus
berjuang untuk merdeka. Puncaknya adalah adanya Sumpah Pemuda tanggal 28
Oktober 1928, saat para pemuda bersumpah untuk “bertumpah darah, berbangsa, dan
berbahasa yang satu, yakni Indonesia.” Setelah Sumpah Pemuda, nama Indonesia
makin sering dipakai. Soekarno pun mendirikan partai bernama Partai Nasional Indonesia,
kemudian diasingkan ke Ende.
Tahun 1942 Jepang
datang dan menggantikan Belanda sebagai penjajah. Bangsa Indonesia harus berjuang lebih keras
untuk merdeka. Berjuang untuk merdeka berarti menegakkan nilai kemanusiaan dan
persatuan. Semua itu menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila memang berasal
dari nilai-nilai bangsa yang sudah ada sejak lama.
Komentar
Posting Komentar